JIKA..PAPUA MERDEKA? ATAU BANGKIT?

By Muhammad Bahauddin Amin

Harini kekampus nyobain grab wheels.  

Harga sih sama,  hanya inovasi nya keren.  Sepeda listrik tanpa supir yang bisa kamu pakai sendiri muter muter trotoar kota. Langsung kepikiran pengen buat konsep yang sama di jayapura sana.  penampakan sepedanya bisa dilihat digambar bawah ya.

Ngomong2 soal jayapura-papua,  jadi sedikit kepo dengan kondisi disana beberapa harini yang terlihat lebih “panas” dari biasanya.  Padahal di papua tabarakallah hujan selalu turun 😁.  Beda dengan disini,  udah sejak februari rasanya saya ga pernah main hujan lagi.  Btw, 2 tahun lalu saya pernah  diskusi sama teman pribumi soal referendum,  kami berakhir dengan satu kata  “ReforMINDsi”. Apaan y Itu? 

Kurang lebih begini alur mikirnya;

Untuk merdeka atau melepas diri dari indonesia,  tentu bukan soal politiknya saja  kan… Sepakati dulu itu bahwa kita juga harus mikirin persiapan negara baru itu.  Karena melepas diri dan tidak punya persiapan sama saja sedang mempromosikan diri untuk dijajah lagi.  

Jadi apa papua bisa merdeka? 

Secara konstitusi hal ini diatur salah satunya dalam UU no 5 tahun 1985 tentang referendum itu sendiri sebagaimana timor leste 1999 silam, artinya boleh dan negara Bisa saja menyelenggarakan atas kebutuhan tertentu dan juga sebaliknya  negara boleh menggunakan segenap kekuatan untuk  menjaga Keutuhan sesuai kebutuhan. Terlebih lagi NKRI itu dijaga ketat oleh banyak barisan. Saya ga ngomongin TNI,  karena tabarakallah,  mereka selalu siap menjaga kesatuan.  Saya bicara soal barisan pribumi juga tapi dari belahan indonesia  lain yang ngerti tentang sejarah dan akan dengan senang hati berangkat ke papua untuk pertahankan NKRI jika dibutuhkan.  

Saya sering bertemu mereka yang bukan orang papua,  ga pernah ke papua,  tapi kalau ditanya soal isu referendum jawaban mereka sama “saya bakal terbang kesana dan bela NKRI”

TAPI.. bukan ini yang saya mau bahas. Walau sebenarnya masalah utama di papua bagi bukan soal merdeka,  bukan juga soal pelecehan,  tapi lebih soal mental berbangsa.  30 tahun dipapua,  saya rasakan sendiri bagaimana isu toleransi selalu dimainkan oleh pihak abu2, dan tinggal menunggu triger.   Surabaya kemarin adalah salah satu  trigernya. Yang buang bendera salah,  yang menghina juga salah, tinggal kita cari pelaku pembuangan bendera dan penghina ras itu. tapi tentu kita sepakat bahwa membakar pasar,  merusak fasilitas umum dan tiba tiba membenci tetangga itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus surabaya itu.  

Yang saya mau bahas adalah bagaimana jika… 

Jika papua benar benar “merdeka” dan semua pendatang diminta keluar,   Berikut beberapa hipotesa nya.  

1. Papua bakal gelap gulita.  Karena PLN bakal keluar. Kecuali papua udah punya teknologi listrik sendiri seperti wakanda

2. Tidak ada jaringan internet. Karena semua vendor komunikasi juga bakal keluar. Kecuali papua udah punya perusahaan komunikasi sendiri.  So ga butuh lagi telkomsel sama indosat

3. Tidak ada lagi pom bensin.  Karena pertamina bakal keluar juga. Kecuali papua udah punya perusahaan minyak sendiri.  Kalaupun ada pom bensin yang ownernya orang asli papua,  itu juga masih punya pertamina kan.. 

4. Dealer kendaraan roda 2 dan roda 4 juga bakal keluar.  Karena semuanya masih dari pengusaha non pribumi yang bawa masuk, kalau ga teman teman pengusaha chinese ya makassar dll.  

5. Pembangunan bakal berhenti sementara.  Karena mulai dari arsitek,  kontraktor sampai toko bangunan masih dipegang sebagian besar oleh non pribumi. Saya kenal beberapa arsitek pribumi yang bagus,  tapi kontraktor dan pengusaha bahan bangunan tetap saja lebih banyak pendatangnya.

6. Bakal banyak orang sakit.  Karena sebagian besar dokter disana masih non pribumi dan mereka semua bakal keluar juga. Dokter pribumi banyak yang hebat,  tapi pengusaha alkes setahu saya masih non pribumi alias pendatang.  

7. Warung padang,  sate dan makanan enak lainnya juga bakal hilang. Rela?  Kalau saya sih sulit.  Apalagi sama masi kuning jayapura. 

8. Mal dan supermarket bakal hilang.  Penjahit juga ga ada.  Karena setahu saya owner mal dan penjahit rata rata masih pendatang. 

9. Belum lagi pertanian mungkin akan banyak berkurang karena sebagian masih dikerjakan oleh teman teman non pribumi oleh program transmigrasii era orde baru dulu.  

Dan masih banyak lagi…. 

Intinya,  papua bisa “saja” merdeka. Asal  Anak anak papua harus pintar,  sehat,  dikirim keluar untuk Belajar yang rajin biar balik bisa bangun papua.  Persiapkan banyak dokter pribumi,  guru,  didik sebanyak mungkin pengusaha lokal,  latih mental mereka untuk tidak lagi hanya mikirin PNS, tapi bagaimana membangun produk dan perusahaan berbasis kearifan lokal.  

Jauhkan anak anak mudanya dari miras,  sehingga angka kematian keracunan,  perkelahian,  tabrakan dan HIV sedikit banyak bisa ditekan.  Kalau tidak,  bisa bisa 30 tahun lagi kita akan sulit menemukan orang asli papua karena perlahan mulai habis oleh miras dan HIV.  

Pendatang yang sukses di papua itu rata rata mulai usaha dari nol.  Nggak punya apa apa.   Klw pedatang yang datang itu bisa sukses padahal mulai dari nol,  saya percaya teman teman papua yang punya modal banyak di papua,  asal berani action juga, harusnya bisa juga hebat.  Hampir tidak ada batasan antara pribumi dan nonpribumi disana untuk urusan akses fasilitas apapun.  Semua sama rata,  tidak dibedakan. 

Contoh ya.. Tidak ada yang melarang pribumi jadi pengusaha,  tapi mirisnya pengusaha asli papua dikit.  

Tidak ada juga batasan pribumi untuk jadi dokter,  tapi dokter yang bekerja di papua kebanyakan masih pendatang.  

Tidak ada juga batasan pribumi untuk jadi owner pom bensin atau mal misalnya.  Tapi kita lihat sendiri kepemilikan tanah strategis disana justru lebih banyak dikuasai pendatang.  Padahal kalau lahan dijual,  itu ada uang.  Tapi uang belum tentu digunakan efektif seefektif orang lain.  

Pendatang ketika diusir,  saya pikir mereka tidak akan terlalu khawatir.  Karena mereka datang juga dari nol,  dan tetap bisa sukses.  Dilempar ketempat baru inshallah sukses juga. Pertanyaan terberat adalah kalau dipapua semua pendatang diusir,  apa pribumi ada jaminan sukses hidup dan karirnya? bisa. kalau mindset berubah saat ini. 

sampai di titik ini, saya lebih sepakat jika lebih baik kita memikirkan membangun SDM papua agar lebih maju ketimbang “merdeka”. 

kita tengok timur leste, negara ini diklasifikasikan sebagai negara dengan pendapatan menengah kebawah oleh bank dunia. walaupun sudah puluhan tahun merdeka dari indonesia, timor leste sampai harini masih sangat tergantung dengan pasokan barang barang dari indonesia mulai dari sembako sampai BBM. menggunakan dollar sebagai mata duang menjadikan daya beli rakyat makin turun. saya tidak mendeskritkan timor leste, saya percaya perjuangan mereka untuk bangkit itu akan berharga suatu saat nanti. tapi harusnya ini bisa dijadikan pelajaran untuk kita.. 

bukan hanya bahan pokok, mata uang dan BBM, secara perbankan sebenarnya mereka juga sedang “dijajah” saat ini. sampai saya menulis ini, setahu saya bank yang populer disana masih bank portugal dan mandiri dari indonesia (koreksi kalau salah ya). internet disana adalah barang mewah. walaupun infrastrukturnya sudah dikembangkan sejak 2003, tapi harga yang mahal dan konektifitas yang rendah membuat sebagian rakyat lebih milih menggunakan fasilitas Vsat dari indonesia atau australia yang tentu saja membuat pemerintah disana menjadi murka. 

Saya lahir, besar dan berkarya dipapua.  Saya bangga karena bisa sedikit  kontribusi untuk pembangunan SDM papua. orang lain boleh saja habisin waktu memikirkan untuk merdeka, tapi saya dan banyak teman teman lain jauh lebih cinta papua maka jangan heran kalau kami tetap sibuk membangun papua, mengajar banyak anak papua agar berani bersaing, membuka banyak lapangan kerja agar anak papua mandiri, mengobati banyak anak papua agar sehat dan kontribusi lainnya di profesi kami masing masing. 

ada yang sibuk terlibat menebar manfaat, ada yang sibuk menghasut. kamu gimana? 

beberapa gambar masa lalu dibawah itu sungguh bukan untuk pamer apalagi untuk menggambarkan soal kemesraan kami dengan teman teman papua, tapi tanpa anda berfikir demikianpun, minimal ikhtiar kami pernah terekam bahwa kami pernah serius terlibat membangun di sini, di bumi cenderawasih

So finally,  kalau pada akhirnya , 30-40 tahun lagi papua bisa buat persiapan dengan terstruktur, sistematis dan masif seperti 9 poin diatas (asik 😁) mungkin pada masa itu “MERDEKA” dan “REFERENDUM” bukan isu penting lagi untuk dibahas.  Ini yang saya sebut tadi diatas sebagai reforMINDsi atau reformasi mind atau reformasi pikiran.  Ketika pikiran kita sibuk mikirin hal besar,  hal kecil ternyata tidak punya tempat lagi di pikiran kita.  

Utopia kah?  Mungkin… Tapi optimis gratis kok..#mba23/agustus/2019


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *